TRENDING: PintasNews — informasi cepat, ringan, dan mencerahkan.
Light & Enlighten
728 x 90 Top Banner Ads
BREAKING NEWS Stunting, Permasalahan Serius yang Harus Ditangani Bersama • Program MBG, Gerakan Nasional Perbaiki Gizi Anak Bangsa • Bupati Karawang Resmikan Pelayanan BPJS di RSUD Rengasdengklok • KDM Perkuat Pemerataan Keuangan dan Pembangunan Ekonomi Berbasis Ekologi
Headline

Wajah Baru PintasNews untuk Informasi Cepat dan Mencerahkan

Nasional · 3 menit baca
Cirebon

Update daerah tersaji ringkas untuk pembaca Ciayumajakuning

Ekbis

UMKM dan ekonomi digital menjadi fokus konten PintasNews

Lifestyle

Gaya hidup dan informasi ringan untuk pembaca harian

Jawa Barat

Lokal

Berita daerah pilihan

Politik

Politik

Isu publik dan pemerintahan

Ragam

Ragam

Ekbis, otomotif, kesehatan, lifestyle

Berita Pilihan

Lihat Semua

Nasional

Lihat Semua

Jawa Barat

Lihat Semua

Ekbis & Lifestyle

Lihat Semua

Video Terbaru

Lihat Semua

Update pilihan redaksi PintasNews

Video · PintasNews

Kabar daerah dan komunitas

Video · Jawa Barat

Ekbis, UMKM, dan ekonomi digital

Video · Ekbis

Lifestyle dan informasi ringan

Video · Lifestyle

Berita Terbaru

Tampilkan postingan dengan label aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aceh. Tampilkan semua postingan

Dapur MBG di Aceh Mendorong Percepat Pemulihan Gizi hingga Ekonomi Masyarakat

 


Sinergi Ekonomi Kerakyatan’ yang digelar di Taman Budaya, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh pada Kamis, 16 April 2026


Banda Aceh – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berperan sebagai pendampingan pasca bencana yang terjadi di Aceh. 

“Dapur MBG/SPPG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi bertransformasi menjadi dapur umum darurat, memastikan asupan gizi korban hingga menggerakkan kembali perekonomian warga yang terdampak bencana,” tutur Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat (PPM) Badan Gizi Nasional (BGN) Tengku Syahdana, S.Kom., CRMO dalam kegiatan ‘Sinergi Ekonomi Kerakyatan’ yang digelar di Taman Budaya, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh pada Kamis, 16 April 2026. 

Dijelaskan Tengku Syahdana, upaya percepatan pemulihan masyarakat pascabencana di Aceh terus diperkuat melalui optimalisasi program MBG yang kini diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat terdampak. “Fokus utama Badan Gizi Nasional di Aceh saat ini adalah memastikan pendampingan pascabencana berjalan berkelanjutan dan tepat sasaran,” tuturnya. 

Program MBG tidak hanya menjadi instrumen bantuan, tetapi juga diarahkan sebagai penggerak ekonomi lokal, terutama bagi kelompok rentan. “Program MBG kita arahkan untuk benar-benar menyentuh masyarakat terdampak. Tidak hanya bantuan berupa makanan saja, tetapi juga menjadi fondasi kebangkitan ekonomi warga,” ujar Tengku Syahdana.

Dalam implementasinya, MBG telah dialihkan sebagian untuk penanganan dampak bencana, dengan dukungan SPPG yang tersebar di seluruh Aceh. Beberapa dapur SPPG kini berperan sebagai dari alokasi program tersebut langsung disalurkan ke masyarakat melalui pembelian bahan pokok dan kebutuhan operasional, sehingga mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal.

Langkah ini sejalan dengan pernyataan Kementerian Keuangan yang menyebutkan bahwa program MBG memiliki kontribusi signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan pendekatan berbasis masyarakat, program ini juga mendorong warga untuk bertransformasi menjadi pelaku usaha produktif, khususnya di sektor peternakan dan pertanian.

Lebih lanjut, pemerintah daerah diminta untuk menyiapkan data masyarakat pada pengelompokan masyarakat berpenghasilan rendah atau desil 1 dan desil 2 sebagai prioritas utama intervensi. Kelompok ini diharapkan dapat “naik kelas” melalui pendampingan intensif dan akses terhadap program pemberdayaan.

“Ini bukan sekadar bantuan, tapi proses membangun kemandirian. Kita ingin masyarakat Aceh bangkit dengan kekuatan sendiri,” tambah Tengku Syahdana.

Kebijakan ini juga diperkuat dengan Perpres Nomor 115 Tahun 2025 yang mewajibkan penggunaan produk lokal dalam pelaksanaan program, serta melarang pembelian produk pabrikan maupun lintas wilayah. Hal ini bertujuan menjaga keberlanjutan ekonomi daerah dan memperkuat rantai pasok lokal.

Selain itu, kebutuhan dan ketersediaan bahan pangan di Aceh menjadi perhatian utama untuk memastikan program berjalan efektif. Sinergi dengan yayasan dan mitra juga terus didorong, termasuk melalui kewajiban penyaluran CSR minimal 2,5 persen guna mendukung pemberdayaan masyarakat.

Dengan berbagai langkah strategis ini, Program MBG diharapkan menjadi motor penggerak pemulihan Aceh pascabencana sekaligus membuka jalan menuju kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. (Nuh) 

 


Pemulihan Aceh Pasca Bencana Diperkuat Dengan Program MBG



Aceh –- Upaya pemulihan ekonomi masyarakat di wilayah pasca bencana di Aceh  diperkuat melalui pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat (PPM) pada Badan Gizi Nasional (BGN), Tengku Syahdana, menjelaskan MBG merupakan program yang berbasis dengan pemberdayaan ekonomi lokal khususnya di Kabupaten Pidie Jaya dan Pidie dengan melibatkan UMKM dan BUMDes. “Program MBG tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi langkah awal menggerakkan kembali aktivitas ekonomi yang sempat terpuruk,” tutur Tengku Syahdana di Pidie Jaya, Rabu, 15 April 2026. 

Ditambahkan Tengku, pemilihan Aceh sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Kondisi pasca bencana dinilai membutuhkan pendekatan yang tidak hanya fokus pada aspek sosial, tetapi juga menyentuh pemulihan ekonomi masyarakat secara menyeluruh.

“Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kebutuhan untuk mengintegrasikan program pemenuhan gizi dengan upaya pemulihan ekonomi lokal. Dalam konteks pascabencana, tantangan yang dihadapi masyarakat tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga penurunan aktivitas ekonomi,” tutur Tengku Syahdana. 

Melalui skema program MBG, kegiatan ini diarahkan agar mampu menjadi pemicu awal bangkitnya kembali rantai pasok dan aktivitas usaha masyarakat secara bertahap.

Lebih lanjut, Tengku Syahdana juga menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang dengan pendekatan berbasis hasil. Forum yang digelar menjadi ruang strategis untuk mempertemukan kebutuhan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan pelaku usaha lokal yang memiliki potensi untuk terlibat dalam rantai pasok.

“Kegiatan ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi juga difungsikan untuk membangun ekosistem yang menghubungkan kebutuhan program dengan pelaku usaha lokal,” jelasnya.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dilakukan pula kunjungan lapangan dan bazar UMKM. Aktivitas ini memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara pelaku usaha dan BGN, sekaligus menjadi sarana untuk mengukur kesiapan serta kapasitas usaha di lapangan.

Dari sisi dampak, masyarakat disebut mulai merasakan manfaat, terutama dalam jangka pendek melalui peningkatan transaksi ekonomi saat bazar berlangsung. Sementara dalam jangka menengah, peluang keterlibatan dalam rantai pasok program MBG diharapkan mampu menciptakan keberlanjutan usaha.

“Dalam jangka pendek terjadi perputaran ekonomi langsung, sedangkan dalam jangka menengah terbuka peluang usaha yang lebih berkelanjutan bagi pelaku lokal,” tukasnya.

Untuk memastikan keterlibatan pelaku usaha berjalan efektif, BGN menggandeng dinas terkait dalam proses seleksi dan identifikasi peserta. Pendekatan berbasis data digunakan agar pelaku usaha yang terlibat benar-benar sesuai dengan kebutuhan program dan tepat sasaran. (Nuh) 

 


Asa untuk Aceh Tamiang, Pertamina EP Rantau Salurkan Air Bersih dan Bantuan Sembako di Puluhan Desa

 


Aceh -- Asa untuk Aceh Tamiang, Pertamina EP Rantau Salurkan Air Bersih dan Bantuan Sembako di puluhan desa.

Air mengalir deras dari selang truk tangki berukuran 2,5 sentimeter. Beberapa tandon air (tempat menampung air bersih) dan puluhan ember seketika penuh. Para warga seperti balas dendam pada kekurangan air pascabanjir besar memorak-porandakan desa mereka.

Dari kejauhan tampak Basariah (53) berlinang air mata. Perempuan berkulit sawo matang itu terharu. Keraguannya mendapatkan air bersih terpatahkan. Air sudah tiba di halaman rumahnya. 

"Saya tidak bisa berkata-kata. Terima kasih kepada Pertamina EP Rantau Field yang sudah bantu kami," ujarnya di Desa Perdamaian, Kecamatan Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu, 28 Januari 2026.

Krisis air bersih di desanya mulai teratasi setelah utusan PT Pertamina EP (PEP) Rantau Field bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1 datang membawa truk tangki air berisi 12 ribu liter.

Saban hari, beberapa unit truk tangki air berseliweran ke desa-desa di wilayah kerja PEP Rantau Field. Sejak 60 hari lalu, penyintas banjir di Aceh Tamiang kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka harus menunggu berhari-hari baru mendapatkan pasokan air.

"Kami sangat membutuhkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak untuk mandi, bisa ambil air wudhu saja sudah cukup. Kami bersyukur dapat bantuan air bersih dari Pertamina," kata Samsul, warga Kampung Bukit Rata, Kecamatan Kejurusan Muda, Aceh Tamiang.

Tidak hanya air bersih, PEP Rantau Field juga menyalurkan berbagai jenis bantuan selama tanggap darurat Aceh Tamiang. Penyaluran bantuan sudah menyasar lebih dari 20 desa di wilayah kerjanya.

Bantuan yang diberikan meliputi pendirian posko Kesehatan gratis, penyediaan makanan siap santap, paket sembako, kasur, selimut, bantal. Penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi dengan berbagai pihak, sehingga tepat sasaran sesuai kebutuhan masyarakat.

Field Manager (FM) PEP Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah menyampaikan bahwa Rantau Field berkomitmen untuk senantiasa hadir di tengah masyarakat. PEP Rantau Field bergerak aktif dalam mendukung percepatan pemulihan pasca bencana.

"Kendati turut terdampak banjir, kami tetap hadir di tengah masyarakat untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan serta memastikan penanganan kemanusiaan tidak hanya berfokus pada logistik tetapi kesehatan masyarakat," ujarnya.

 

PHR Zona 1 telah menyalurkan berbagai bantuan untuk masyarakat di sekitar wilayah kerjanya. Bantuan bahan makanan mencakup 1,62 ton beras, 555 kg gula, 270 dus air mineral, 405 dus mi instan, 175 dus minyak goreng, 142 dus biskuit.

Lalu, bahan pangan lainnya seperti sarden, telur, susu kental manis dan makanan anak/bayi. Selain itu, turut disalurkan kebutuhan sehari-hari, mulai dari perlengkapan mandi, obat-obatan, selimut, terpal, dan popok sekali pakai.

Bantuan datang dari seluruh wilayah kerja Zona 1, dari Sumatera Selatan, Jambi, Riau hingga Sumatera Utara. Selain itu, PHR Zona 1 juga berkolaborasi menyalurkan bantuan yang datang dari grup Pertamina Subholding Upstream yang lain, misalnya PHR Zona 4, PHR Zona Rokan, hingga dari Regional 2 Zona 6 PHE OSES.

Hal ini menunjukkan peran Pertamina sebagai perusahaan energi yang tidak hanya berfokus pada keberlanjutan operasi. Tetapi, juga pada tanggung jawab sosial kepada masyarakat, terutama di wilayah yang berada di sekitar area kerja perusahaan.

"Komitmen ini dijalankan melalui sinergi dengan SKK Migas, pemerintah daerah, BPBD, serta para pemangku kepentingan lainnya," pungkas Tomi. (Nuh)

 

 

Home Trending