![]() |
| Wali Kota Cirebon Effendi Edo saat menghadiri Peringatan HUT ke-105 RSD Gunung Jati Kota Cirebon, Senin, 31 Agustus 2026./ist |
CIREBON - RSD Gunung Jati Kota Cirebon memasuki usia 105 tahun dengan membawa pengembangan baru dalam pelayanan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan kanker pada perempuan. Layanan ginekologi onkologi dan kanker payudara kini menjadi bagian dari penguatan pelayanan rumah sakit rujukan tersebut.
Perkembangan itu menjadi salah satu sorotan dalam Apel Peringatan HUT ke-105 RSD Gunung Jati yang dipimpin Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, pada Senin, 31 Agustus 2026. Mengangkat tema “Terus Melayani, Bertransformasi, Bersinergi, untuk Kesehatan yang Lebih Baik”, peringatan ulang tahun tidak sekadar mengenang perjalanan panjang rumah sakit, tetapi juga menjadi penanda arah pembenahan pelayanan ke depan.
Edo menilai perjalanan selama lebih dari satu abad merupakan modal penting bagi RSD Gunung Jati untuk terus meningkatkan kualitas layanan. Menurutnya, perubahan kebutuhan masyarakat membuat rumah sakit tidak bisa hanya mengandalkan pencapaian yang sudah ada. Adaptasi terhadap teknologi, inovasi medis, serta pola pelayanan yang semakin berorientasi kepada pasien harus terus dilakukan.
“Kita ingin pelayanan di rumah sakit ini tidak hanya cepat dan modern, tetapi juga ramah dan manusiawi,” kata Edo.
Salah satu langkah yang kini telah berjalan adalah pembukaan layanan ginekologi onkologi untuk menangani kanker pada organ reproduksi perempuan. Pengembangan tersebut melengkapi layanan bagi perempuan yang sebelumnya juga diperkuat melalui keberadaan layanan kanker payudara di Poliklinik Rara Jelita.
Bagi masyarakat Ciayumajakuning, kehadiran layanan ginekologi onkologi dinilai memberikan pilihan yang lebih dekat. Edo menyebut pelayanan kanker kandungan dengan layanan tersebut saat ini baru tersedia di RSD Gunung Jati untuk kawasan Ciayumajakuning.
“Ini merupakan satu inovasi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat Ciayumajakuning,” ujar Edo.
Layanan kanker payudara sendiri telah mulai beroperasi sejak 10 Agustus 2026. Dengan berjalannya kedua layanan tersebut, masyarakat Kota Cirebon dan daerah sekitar diharapkan memperoleh akses penanganan yang lebih mudah tanpa selalu harus mencari fasilitas kesehatan di luar wilayah.
Edo berharap pengembangan layanan kanker perempuan dapat membantu warga yang membutuhkan penanganan medis secara lebih cepat dan dekat. Ia juga mengingatkan jajaran rumah sakit agar tidak berhenti melakukan pembaruan hanya karena telah mencapai sejumlah kemajuan.
Menurut Edo, tuntutan masyarakat terhadap pelayanan publik terus bergerak. Karena itu, evaluasi, inovasi, dan pembenahan perlu menjadi pekerjaan rutin, bukan sekadar dilakukan ketika rumah sakit menghadapi penilaian atau peringatan tertentu.
Penguatan layanan juga, menurutnya, tidak akan berjalan tanpa kolaborasi seluruh unsur rumah sakit. Dokter, perawat, bidan, tenaga administrasi, petugas kebersihan, keamanan, hingga unsur pendukung lainnya memiliki kontribusi terhadap kualitas pelayanan. Ia meminta agar kepentingan sektoral maupun profesi tidak mengganggu tujuan utama rumah sakit.
“Keselamatan dan kepuasan pasien adalah di atas segalanya,” tegas Edo.
Kedisiplinan turut menjadi perhatian dalam arahan tersebut. Karakter pelayanan rumah sakit yang berlangsung selama 24 jam membuat ketepatan waktu dan kehadiran petugas berkaitan langsung dengan keberlangsungan layanan kepada pasien. Edo meminta disiplin dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab pelayanan, bukan sekadar kewajiban administratif aparatur.
Dari sisi tata kelola, manajemen RSD Gunung Jati juga diminta memperbaiki sistem administrasi, termasuk penyelesaian proses klaim BPJS Kesehatan. Edo menekankan bahwa kelancaran administrasi merupakan bagian dari ekosistem pelayanan yang melibatkan banyak unsur sehingga penyelesaiannya tidak dapat dibebankan kepada satu bagian saja.
“Saya meminta manajemen untuk membangun ekosistem administrasi yang sehat dan terintegrasi,” ujarnya.
Direktur Utama RSD Gunung Jati Kota Cirebon, dr. Katibi, menjelaskan bahwa pengembangan layanan rumah sakit tidak terlepas dari kemajuan ilmu pengetahuan dan perubahan kebutuhan masyarakat. Dua faktor tersebut menjadi dasar pengembangan ginekologi onkologi di RSD Gunung Jati.
Menurut Katibi, bidang obstetri dan ginekologi terus berkembang dengan berbagai cabang subspesialisasi. RSD Gunung Jati sebelumnya telah memiliki layanan subspesialis fetomaternal, kemudian pengembangan kompetensi dan layanan dilanjutkan melalui ginekologi onkologi.
“Perkembangan itu dipicu oleh dua hal. Pertama, pengetahuan, dan kedua, kebutuhan masyarakat,” kata Katibi.
Ia mengatakan kehadiran layanan tersebut juga berkaitan erat dengan kondisi rujukan pasien dari Cirebon dan wilayah Ciayumajakuning. Sebelum tersedia di RSD Gunung Jati, kebutuhan pelayanan ginekologi onkologi banyak mengarah ke rumah sakit di Bandung, termasuk Rumah Sakit Hasan Sadikin.
Jarak perjalanan yang dapat mencapai dua hingga tiga jam serta tingginya antrean pasien menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat yang membutuhkan layanan tersebut. Dengan adanya pelayanan di RSD Gunung Jati, akses terhadap layanan khusus kanker organ reproduksi perempuan menjadi lebih dekat bagi warga di wilayah sekitar Cirebon.
Katibi memastikan layanan ginekologi onkologi telah berjalan dan mulai menerima pasien, termasuk peserta Jaminan Kesehatan Nasional melalui BPJS Kesehatan, sejak 10 Agustus 2026.
Pengembangan tersebut sekaligus mempertegas posisi RSD Gunung Jati sebagai rumah sakit daerah yang tidak hanya melayani kebutuhan kesehatan masyarakat Kota Cirebon, tetapi juga menjadi bagian dari sistem rujukan bagi kawasan Ciayumajakuning. Di usia 105 tahun, penguatan layanan spesialistik menjadi salah satu langkah rumah sakit untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan kesehatan masyarakat yang terus berkembang.* (jr)
