Ketahanan Pangan Berbasis Warga Didorong Jadi Upaya Penanganan Stunting di Cirebon

 

Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati melihat kegiatan pemberdayaan warga dan pembagian pangan bergizi di Jagasatru, Kota Cirebon, Rabu, 9 September 2026./ist

CIREBON - Kebun pangan, kolam ikan, hingga pengelolaan sampah menjadi bagian dari gerakan warga RW 09 Kelurahan Jagasatru, Kota Cirebon, dalam mendukung pemenuhan gizi anak. Hasil kegiatan tersebut salah satunya diwujudkan melalui pembagian pangan bergizi kepada balita stunting di kawasan Jagasatru Barat, Rabu, 9 September 2026.

Kegiatan itu mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Cirebon. Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati yang juga menjabat Ketua Tim Percepatan, Pencegahan, Penurunan Stunting (TP3S) Kota Cirebon, hadir melihat langsung kegiatan yang digerakkan masyarakat tersebut.

Menurut Farida, keterlibatan warga menjadi unsur penting dalam penanganan stunting. Persoalan tersebut, kata dia, tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi kesehatan anak saat ini, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia Kota Cirebon pada masa mendatang.

Ia menilai program pemerintah akan lebih kuat apabila mendapat dukungan dari lingkungan masyarakat. Keterbatasan pemerintah dalam menjangkau seluruh kebutuhan warga membuat inisiatif yang tumbuh dari tingkat komunitas menjadi bagian penting dalam upaya penanganan stunting.

"Stunting menyangkut masa depan kualitas sumber daya manusia kita, sehingga penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat juga harus terlibat," ujar Farida.

Kegiatan di RW 09 menunjukkan bahwa upaya pemenuhan pangan bergizi dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Kelompok Tani (Poktan) Lestari 09 menjadi salah satu kelompok yang mengembangkan sumber pangan di lingkungan tersebut.

Tidak hanya mengandalkan hasil kebun, masyarakat juga mempunyai Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Akar Bahar. Kelompok tersebut menjadi bagian dari upaya menyediakan sumber pangan yang dapat mendukung kebutuhan gizi warga.

Farida mengapresiasi pola pemberdayaan yang berkembang di lingkungan RW 09. Ia melihat pembagian pangan kepada balita stunting sebagai bentuk konkret kepedulian warga terhadap persoalan yang ada di sekitar mereka.

Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada pembagian pangan dalam satu kesempatan. Dukungan dari pemerintah tingkat kecamatan dan kelurahan dinilai dibutuhkan agar berbagai potensi yang sudah dibangun masyarakat dapat terus berkembang.

"Model ketahanan pangan berbasis komunitas seperti ini perlu dirawat dan dikembangkan. Pemerintah di tingkat kecamatan dan kelurahan harus ikut memastikan ekosistem yang sudah dibangun warga bisa berkelanjutan," katanya.

Ketua RW 09 Kelurahan Jagasatru, Toto Satori, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari kerja bersama masyarakat. Sejumlah kelompok dan kader di lingkungan RW 09 selama ini terlibat dalam menjaga lingkungan sekaligus menjalankan berbagai program pemberdayaan.

Kader PKK dan Posyandu menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Ibu-ibu Majelis Taklim Al-Ikhlas juga ikut mengambil peran dalam berbagai aktivitas masyarakat.

Toto menyebut kebersamaan warga menjadi modal utama dalam mengembangkan potensi lingkungan. Menurutnya, berbagai kegiatan yang berjalan saat ini merupakan hasil dari proses yang dilakukan secara konsisten.

"Semua ini lahir dari kebersamaan warga dan perjuangan para kader yang selama ini terus bergerak menjaga lingkungan," tutur Toto.

Di sektor pangan, RW 09 memiliki kebun yang dimanfaatkan sebagai salah satu sumber bahan pangan. Potensi tersebut kemudian diperkuat dengan budidaya ikan yang dikelola oleh kalangan anak muda.

Saat ini terdapat enam kolam ikan di lingkungan tersebut. Jumlah ikan yang dibudidayakan disebut telah mencapai ribuan ekor.

Toto mengatakan keterlibatan generasi muda menjadi salah satu hal yang membuat kegiatan pemberdayaan di wilayahnya terus berkembang.

"Anak-anak muda juga ikut mengelola budidaya ikan. Sekarang sudah ada enam kolam dengan ribuan ikan yang dibudidayakan," ujarnya.

Gerakan warga RW 09 tidak berhenti pada persoalan pangan. Pengelolaan lingkungan juga dikembangkan melalui Bank Sampah Seruni.

Bank sampah tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus memanfaatkan kembali sampah anorganik. Material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai diarahkan menjadi barang yang dapat digunakan dan mempunyai nilai guna.

Kegiatan Bank Sampah Seruni juga telah terhubung dengan jejaring pengelolaan sampah di tingkat Jawa Barat hingga nasional. Dari keterlibatan tersebut, warga memperoleh ruang untuk bertukar pengalaman mengenai pengelolaan sampah sekaligus menyampaikan edukasi kepada masyarakat.

Toto menjelaskan pihaknya terlibat dalam Forum Bank Sampah Jawa Barat dan Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia. Jejaring tersebut turut membuka kesempatan bagi warga untuk berbagi pengetahuan mengenai pengolahan sampah anorganik.

"Kami juga memberikan edukasi agar sampah anorganik tidak sekadar dibuang, tetapi bisa dimanfaatkan menjadi barang yang berguna," kata Toto.

Rangkaian kegiatan di RW 09 memperlihatkan bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat dikembangkan dalam beberapa sektor sekaligus. Lingkungan dijaga melalui pengelolaan sampah, kebutuhan pangan didukung lewat kebun dan kolam ikan, sementara hasilnya dapat diarahkan untuk membantu pemenuhan gizi anak.

Bagi Pemerintah Kota Cirebon, pola semacam ini menjadi contoh bahwa penanganan stunting dapat diperkuat melalui partisipasi masyarakat. Keberlanjutan program menjadi hal yang kemudian perlu dijaga agar manfaatnya tidak berhenti pada kegiatan sesaat.

Farida meminta jajaran kecamatan dan kelurahan tetap mendampingi kelompok masyarakat yang telah memiliki inisiatif pemberdayaan. Evaluasi juga diperlukan untuk melihat sejauh mana kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi warga.

"Intervensi yang tumbuh dari masyarakat akan lebih kuat jika terus dijaga dan dievaluasi. Harapannya, manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang," ucapnya.

Dengan dukungan masyarakat, ketahanan pangan di tingkat lingkungan diharapkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, tetapi juga menjadi salah satu bagian dari upaya bersama mencegah dan menurunkan angka stunting di Kota Cirebon.*(jr)

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama