DPRD Kabupaten Cirebon Desak BBWS Segera Perbaiki Tanggul yang Rusak

 


Komisi III DPRD Kabupaten Cirebon melakukan kunjungan ke tanggul yang ambles di Desa Beringin, Kecamatan Pangenan


Cirebon – Komisi III DPRD Kabupaten Cirebon mendesak pemerintah pusat segera melakukan perbaikan permanen pada tanggul yang tergerus air di  kawasan Cimanis yang sejak 2021 hingga kini belum terselesaikan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun komisi III DPRD Kabupaten Cirebon mendesak pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk segera melakukan perbaikan permanen pada tanggul yang ambles sejak 2011 di kawasan Cipanis, tepatnya di Desa Beringin, Kecamatan Pangenan

“Kerusakan tersebut tidak hanya memicu banjir berulang, tetapi juga mengganggu aktivitas pertanian dan akses transportasi masyarakat. Kami meminta perbaikan permanen,” tutur Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Cirebon, Lukman Hakim, Senin, 8 Juni 2026.

Dijelaskan Lukman, sungai menjadi kewenangan BBWS, sehingga merekalah yang harus memperbaiki kerusakan tanggul yang telah terjadi sejak 2021. Penanganan yang dilakukan saat ini hanya berupa perbaikan-perbaikan yang sifatnya sementara.

Selanjutnya untuk mempercepat penyelesaian, DPRD Kabupaten Cirebon akan mengagendakan pertemuan bersama pemerintah desa, kecamatan, dan BBWS. Selain itu, DPRD juga berencana mendorong aspirasi tersebut melalui Komisi V DPR RI yang menjadi mitra kerja BBWS. "Kami akan coba mendorong lewat Komisi V DPR RI agar cepat terealisasi dan segera diselesaikan," katanya.

Lukman menegaskan, penanganan yang dibutuhkan bukan lagi perbaikan sementara, melainkan pembangunan permanen. Pasalnya, kerusakan yang awalnya hanya berupa tanggul jebol kini telah menyebabkan saluran irigasi terputus hingga merusak badan jalan.

"Yang awalnya hanya jebolnya tanggul, kemudian saluran, akhirnya saluran juga sudah terputus, bahkan jalannya juga sudah terputus," tuturnya.

Dampak kerusakan tersebut, lanjut Lukman, dirasakan oleh sektor pertanian yang luasnya mencapai sekitar 350 hektare. Lahan pertanian hortikultura, palawija, dan komoditas lainnya mengalami kerugian berulang selama hampir lima tahun terakhir.

Terkait rencana penanganan permanen, ia menyebut hasil komunikasi dengan BBWS mengarah pada pengembalian fungsi saluran irigasi. Namun, beberapa opsi teknis lainnya masih memerlukan kajian lebih mendalam. "Kalau dari perencanaan permanen pasti ada pengembalian saluran, khususnya irigasi. Apakah perlu penanganan tembok khusus atau sodetan, itu masih perlu kajian lebih rinci lagi," katanya.

Ia juga menyoroti alasan keterbatasan anggaran yang selama ini menjadi kendala. Menurutnya, alasan tersebut tidak sepenuhnya relevan karena kerusakan telah terjadi jauh sebelum kebijakan efisiensi anggaran diberlakukan. "Kalau bicara anggaran, kita tidak bicara hari ini saja. Kejadiannya sejak 2021. Harusnya bisa dilaksanakan jauh-jauh hari pada tahun-tahun sebelumnya," ujar Lukman. .

Dalam waktu dekat, BBWS disebut telah melakukan penanganan sementara dengan alat berat untuk membentuk kembali tanggul yang jebol. Namun langkah tersebut dinilai belum menyelesaikan akar persoalan.

"Itu hanya pembentukan tanggul kembali dan sifatnya sementara. Dari tahun 2021, 2023, sudah beberapa kali dilakukan, tetapi kejadiannya berulang lagi. Karena itu kami mendorong minimal tahun ini, atau paling lambat tahun depan, sudah ada perbaikan permanen," tegas Lukman.

Sementara itu, Camat Pangenan, Baihaqi, mengatakan pembahasan penanganan tanggul jebol dilakukan sebagai tindak lanjut pascabanjir yang terjadi pada 19 Mei lalu.

"Agenda ini menindaklanjuti kejadian banjir tanggal 19 Mei kemarin. Dampaknya sampai menjadi berita nasional karena jalur Pantura sempat lumpuh," katanya.

Menurut Baihaqi, selain Desa Beringin banjir tersebut merendam tiga desa, yakni Desa Bendungan, Desa Rawaurip, dan Desa Pangenan, dengan genangan yang bertahan hingga sekitar 24 jam.

Ia menjelaskan, persoalan tanggul jebol bukan kejadian baru karena telah berlangsung sejak 2021. Namun, penanganan yang dilakukan selama ini belum maksimal.

"Kalau melihat historis dan kronologisnya, kejadian ini dari tahun 2021. Cuma memang penanganannya masih belum maksimal dan itu pun dibenarkan oleh pihak BBWS," ujarnya.

Kuwu Desa Beringin, Agung Gunawan, mengapresiasi kunjungan DPRD Kabupaten Cirebon dan BBWS ke lokasi terdampak. Ia berharap kunjungan tersebut dapat mempercepat realisasi penanganan permanen.

"Pemerintah desa dan masyarakat sangat mengapresiasi kunjungan DPRD Kabupaten Cirebon dan BBWS. Kami berharap DPRD terus mendorong agar segera ada tindakan, khususnya di Tanggul Simanis yang dampaknya dirasakan masyarakat Desa Beringin dan wilayah Kecamatan Pangenan," ujarnya.

Agung menyebut banjir yang terjadi pada 19 Mei lalu mengakibatkan sekitar 50 hektare lahan pertanian di Desa Beringin terendam. Sementara di wilayah desa lainnya, genangan berlangsung hingga tiga sampai empat hari.

"Untuk persawahan di Desa Beringin sekitar 50 hektare hampir terendam. Informasinya di tiga desa genangan berlangsung sampai tiga sampai empat hari. Jalan Pantura juga pada hari pertama sempat terputus," pungkasnya. (Din)

 

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama