Program K/PMR untuk Penguatan Ekonomi

 


Kepala DKUKMPP Kota Cirebon, Iing Daiman, memperlihatkan produk UMKM yang dipajang di mall UMKM Kota Cirebon (foto ilustrasi) 

 

Cirebon  – Program kredit/pembiayaan melawan rentenir (K/PMR) telah menyalurkan Rp 13,14 miliar untuk hampir seribu pelaku usaha kecil di wilayah Cirebon.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon, sepanjang Januari hingga September 2025, program K/PMR telah menyalurkan dana hingga Rp 13,14 miliar untuk 972 pelaku usaha produktif di wilayah Cirebon. Wilayah Cirebon sendiri terdiri dari Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Indramayu. “Program K/PMR telah membuka jalan bagi masyarakat kecil untuk beralih dari pinjaman informal berbunga tinggi menuju sumber pembiayaan yang lebih aman dan terukur,” tutur Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, Sabtu, 22 November 2025.  

Dijelaskan Agus, angka ini menjadi capaian penting mengingat wilayah Ciayumajakuning selama ini dikenal sebagai kantong UMKM seringkali kesulitan mendapatkan modal dari bank konvensional.

Program K/PMR di BPR ini bukan sekedar penyaluran kredit namun juga upaya pemerintah untuk melakukan menahan laju praktik rentenir di kawasan ekonomi rakyat. “K/PMR, mereka diberikan opsi pembiayaan yang sederhana, murah, dan tidak memberatkan,” tutur Agus.

Proses peminjaman melalui program K/PMR juga dibuat sesederhana mungkin agar pelaku usaha skala kecil tidak terhambat birokrasi dan syarat administrasi yang berlebihan. Proses pengajuan diperingkas, bunga rendah, dan pencairan dipercepat sehingga lebih mudah diterima pedagang pasar, petani kecil, hingga pengrajin rumahan yang sebelumnya menganggap bank sebagai institusi yang sulit dijangkau.

Seiring berkembangnya program, pola ini mengubah cara pandang masyarakat terhadap BPR. Banyak UMKM kini mulai menganggap bank kini bukan merupakan hambatan, melainkan mitra yang dapat mendukung pertumbuhan usaha. Mayoritas penerima manfaat merupakan pelaku usaha mikro di desa-desa pinggiran yang selama ini jarang terlayani perbankan besar. “BPR menjadi garda terdepan yang menjangkau sektor produktif di wilayah yang selama ini tidak tersentuh bank umum,” jelas Agus.

 

Program K/PMR untuk Penguatan Ekonomi Daerah

Dijelaskan Agus, program pembiayaan melalui K/PMR membawa efek lanjutan bagi penguatan ekonomi daerah. Tambahan modal memungkinkan UMKM menaikkan volume produksi, memperluas jaringan penjualan, serta menambah variasi produk sehingga mereka pun bisa naik kelas. “Semakin banyak UMKM yang naik kelas, semakin kokoh struktur ekonomi daerah. Namun memang jumlah penerima manfaat masih jauh dari total populasi UMKM di Ciayumajakuning,” tutur Agus.

Namun OJK menilai tren kenaikan penyaluran setiap triwulan menjadi sinyal positif.  OJK memperkirakan, pada akhir 2025, jumlah UMKM yang memanfaatkan K/PMR berpotensi meningkat dua kali lipat dibanding capaian saat ini, terutama jika tingkat literasi keuangan masyarakat terus membaik. Untuk itu, OJK Cirebon bersama jaringan BPR rutin menggelar berbagai kegiatan edukasi untuk kelompok usaha, komunitas perempuan, hingga kelompok tani.  Materi sosialisasi mencakup cara menghitung bunga, mengatur arus kas, hingga pentingnya menjaga rekam jejak pembayaran. “Kami tidak hanya menyalurkan kredit, tetapi memastikan masyarakat memahami tanggung jawabnya,” jelas Agus. (Ris)




Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama